Selasa, 06 Maret 2018

laporan Ekologi tentang Analisa Vegetasi


LAPORAN EKOLOGI
ANALISA VEGETASI



NAMA : MURIA
                                                       NIM     : 105960179814
                                                       KELAS: 2.7

    JURUSAN AGRIBISNIS
   FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015


KATA PENGANTAR
      
 Puji syukur kehadirat Allah swt. Atas segala nikmat dan karunianya kepada kita semua sehingga saya dapat menyelesaikan laporan  ini tepat pada waktunya.
Terimakasih pula kepada ibu dosen yang telah menggerakkan hati kami dengan memberikan kami tugas ini sehingga kami pun bisa mengetahui dan memahaminya secara lebih mendalam tentang ANALISA VEGETASI. Dan terimaksih pula kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan laporan ini.
Semoga dengan adanya laporan ini dapat menambah pengetahuan para pembaca tentang ANALISA VEGETASI.  Apabila ada kesalahan dan kekeliruan mohon di maafkan karena saya juga masih dalam tahap belajar.

Makassar, 10 Mei 2015
    Penulis


                                                                                                                      Muria






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………        i
DAFTAR ISI………………………………………………………………..……ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………..…...1
A.    Latar Belakang………………………………………………..………..1
B.     Tujuan…………………………………………………..………………3
C.     Rumusan Masalah…………………………………….………………..3
BAB II   TINJAUAN PUSTAKA…………………………….…………………4
A.    Analisa Vegetasi……………………………………....………………4
B.     Keragaman Arthropoda……………………………..…………………8
BAB III  METODE PRAKTIKUM………………………..………..………….10
A.    Alat dan Bahan………………………………….…………………...10
B.     Prosedur Pelaksanaan………………………….……………………..10
BAB  IV  HASIL DAN PEMBAHASAN……………….……………………..12
A.    Hasil……………………………………………….………………....12
B.     Pembahasan ………………………….………………………...........13
BAB  V    PENUTUP………………………………..…………………………..15
A.    Kesimpulan……………………………...…………………………..15
B.     Saran…………………………………………………. …………….15
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………16
LAMPIRAN……………………………………………………………………...17







BAB  I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
        Analisis vegetasi merupakan sebuah cara untuk mempelajari komposisi jenis dan struktur vegetasi atau kelompok tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit.
Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya dan Mempelajari tegakan tumbuh-tumbuhan bawah, yaitu suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi dapat dilakukan dengan sampling,  bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan sebagian dari populasi. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak, cara peletakkan petak dan teknik analis vegetasi yang digunakan. (Loveless, 1983)
               Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus berukuran sedang tidak besar dan tidak kecil agar dapat memudahkan kita melakukan Analis Vegetasi. Karena titik berat analisis vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika tidak bisa menentukan luas petak maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, dapat ditetapkan : 1) Luas minimum suatu peta yang dapat mewakili habitat yang akan diukur. 2) Jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakkan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur. (Marsono, 1991)
    Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (habitat) dan logos (ilmu). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834-1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
 Analisis vegetasi ditujukan untuk mempelajari tingkat suksesi, evaluasi hasil pengendalian gulma, perubahan flora (shifting) sebagai akibat metode pengendalian tertentu dan evaluasi herbisida (trial) untuk menentukan aktivitas suatu herbisida terhadap jenis gulma di lapangan. Konsep dan metode analisis vegetasi sangat bervariasi tergantung keadaan vegetasi dan tujuan analisis. Metode yang digunakan harus disesuaikan dengan struktur dan komposisi vegetasi. Metode garis (line intercept) biasanya digunakan untuk areal yang luas dengan vegetasi semak rendah. Metode titik (point intercept) biasanya digunakan untuk pengamatan sebuah petak contoh dengan vegetasi yang tumbuh menjalar (creeping). Metode visual (visual emotion) dapat digunakan untuk suatu survey daerah yang luas dan tidak tersedia cukup waktu (Anggraini, 1979).
             Dari pembahasan diatas, Mahasiswa Biologi dalam rangka mempelajari dan memperdalam ilmu khususnya mengenai Ekologi Tumbuhan wajib melaksanakan tugas praktikum sebagai salah satu syarat dalam mata kuliah biologi. Dalam hal ini praktikum yang dilaksanakan adalah “ANALISIS VEGETASI” yang diperlukan untuk mengetahui vegetasi tumbuhan yang ada secara detail dari segi macam spesies, jumlah maupun bobot masing-masing spesies serta frekuensinya. Analisis vegetasi didasarkan pada pengambilan contoh  dari komposisi populasi di lapangan, metode serta ukuran pengambilan contoh ditentukan oleh tujuan analisis vegetasi tersebut. Analisis vegetasi yang umum digunakan adalah metode pembuatan plot dengan teknik sapling. Dengan uraian tersebut mahasiswa perlu membuat laporan hasil dari praktikum.
B.TUJUAN PRAKTIKUM
1.      Mengetahui organisme penyusun komunitas yang diamati
2.      Dapat menghitung distribusi, frekuensi, nilai penting dan komponen untuk habitat
3.      Dapat mengenal dan memehami analisa vegetasi pada suatu agroekosistem
4.      Mengetahui keragaman arthropoda pada suatu plot yang berukuran 2 x 2 m

C.. RUMUSAN MASALAH
         1. Bagaimanakah cara mengitung kerapatan mutlak pada setiap tumbuhan ?
         2. Bagaimanakah car menghitung  kerapatan nisbih pada setiap tumbuhan ?
         3. Berapakah jenis – jenis tumbuhan dan serangga dalam analisa vegetasi ?





BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A.    ANALISA VEGETASI
         Salah satu yang berpengaruh pada suatu ekosistem adalah tutupan lahan oleh vegetasi yang merupakan bagian penting yang tidak dipisahkan dalam penanganan pengelolaan baik dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
         Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (strukrur) vegetasi atau masyarakat tumbuh- tumbuhan. Untuk suatu kondisi ekosistem yang luas, maka kegiatan analisa erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili_kosistem.    Plotting merupakan suatucara untuk mengambil sample unit dari ekosistemdengan cara membuat dan menentukan daerah pada areal yang dipandang sebagai lokasi studi. Plot yang dibuat biasanya berbentuk persegi. Kegunaan plot yang dibuat tersebut adalah :
1.      Untuk mempelajari struktur ekosistem suatu daerah yang didasarkan atas benyaknya plot yang dipelajari.
2.      Untuk mengetahui secara kuantitatif  maupun secara kualitatif masing- masing individu yang ada didaerah tersebut
         Plotting biasanya sangat efektif  bila digunakan untuk studi vagetasi, walaupun kadang-kadang juga efektik untuk studi pada hewan. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi  yang erat, baik diantara sesame individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan  suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
           Dalam komunitas vegetasi, tumbuhan yang mempunyai hubungan di antara mereka, mungkin pohon, semak, rumput, lumut kerak dan Thallophyta, tumbuh-tumbuhan ini lebih kurang menempati strata atau lapisan dari atas ke bawah secara horizontal, ini disebut stratifikasi. Individu yang menempati lapisan yang berlainan menunjukkan perbedaan-perbedaan bentuk pertumbuhan, setiap lapisan komunitas kadang-kadang meliputi klas-klas morfologi individu yang berbeda seperti, strata yang paling tinggi merupakan kanopi pohon-pohon atau liana. Untuk tujuan ini, tumbuh-tumbuhan mempunyai klas morfologi yang berbeda yang terbentuk dalam “sinusie” misalnya pohon dalam sinusie pohon, epifit dalam sinusie epifit dan sebagainya.Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik(Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000).
                    Metode sampling yang dilakukan adalah metode transek garis dan petak contoh (Line Transect Plot). Pada masing-masing lokasi penelitian dibuat transek garis sebanyak tiga buah pada daerah sampling menggunakan tali rafia. Sepanjang garis transek dibuat plot-plot berukuran 2 x 2 m yang ditempatkan secara acak. Di dalam plot-plot 10 x 10 m dibuat subplot ukuran 2 x 2 m ilakukan identifikasi jenis yang ditemukan pada masing-masing plot. Pada plot 2 x 2 m dilakukan penghitungan jumlah spesies yang ditemukan. (Syafei, 1990)
          Variasi struktur dan komposisi tumbuhan dalam suatu komunitas dipengaruhi antara lain oleh fenologi, dispersal, dan natalitas. Keberhasilannya menjadi individu baru dipengaruhi oleh vertilitas dan ekunditas yang berbeda setiap spesies sehingga terdapat perbedaan struktur dan komposisi masing-masing spesies (Kimmins.1987).
            Nilai frekuensi suatu jenis dipengaruhi secara langsung oleh densitas dan pola distribusinya. Nilai distribusi dapat memberikan informasi tentang keberadaan tumbuhan tertentu dalam suatu plot dan belum dapat memberikan gambaran tentang jumlah individu   pada masing-masing plot (Greig-Smith .1983)
          Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Mueller-Dombois dan Ellenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu. Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan. Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya.Untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak (Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis Berpetak) dan Metode Tanpa Petak (Metode Berpasangan Acak, Titik Pusat Kwadran, Metode Titik Sentuh,  Metode Garis Sentuh, Metode Bitterlich) (Irwanto, 2007).
          Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. (Marsono, 1991)
                     Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan kedalam 3 kategori yaitu (1) pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal; dan (3) melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Irwanto,2007).
        Mueller-Dombois dan Ellenberg (1974) membagi struktur vegetasi menjadi lima berdasarkan tingkatannya, yaitu: fisiogonomi vegetasi, struktur biomassa, struktur bentuk hidup, struktur floristik, struktur tegakan. Struktur vegetasi terdiri dari 3 komponen, yaitu: 1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi. 2. Sebaran, horisotal jenis-jenis penyusun yang menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain.3. Kelimpahan (abudance) setiap jenis dalam suatu komunitas.
         Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Irwanto, 2007).
          Setiap orgaisme hidupnya bergantung pada organisme lain. Organisme dan spesies yang berbeda saling mempengaruhi macam hubungan yang biasa kita kenal adalah hubungan antara organisme yang makan dan organisme yang dimakan. Vegetasi (latin:vegetare = menghidupkan, vegetation = dunia tumbuhan) yang terdapat didalamnya kebanyakan komunitas hutan, daun–daun, cabang–cabang di bagian–bagian lain di beberapa pohon, semak dll tumbuhan membentuk beberapa lapisan (Rahardjo,s. 1980)

B.     KERAGAMAN ARTHROPODA
         Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal organisme dan lingkungannya, baik lingkungan organik maupun lingkungan anorganiknya. Ekologi tumbuh secara bertahap dan sebetulnya manusia sudah sejak dahulu telah mengetahui adanya hubungan antara organism dan lingkungannya. Oleh sebab itu, dalam praktikum ekologi pertanian juga akan dibahas mengenai hubungan serangga dan peranan serangga tersebut dalam bidang pertanian.
          Di permukaan bumi ini sekian banyak spesies hewan yang ada, ternyata sekitar ¾ bagian adalah serangga. Dari jumlah tersebut, lebih dari 750.000 spesies telah diketahui dan diberi nama. Jumlah tersebut merupakan kurang lebih 80 % dari anggota filum arthropoda. Dalam pengamatan kita, mungkin penampilan umum serangga ang satu mempunyai kesamaan dengan serangga yang lainnya, akan tetapi mereka menunjukan keragaman yang sangat besar dalam bentuknya. 
            Dikelas insekta memiliki jenis yang paling banyak maka akan dipelajari lebih dalam lagi dalam pengelompokannya. Dalam kelas insekta terdiri dari beberapa suku yang sangat penting dan terdapat paling banyak dialam, diantaranya yaitu :
1.      Coleopteran, bersayap keras
2.      Dipteral, sayap belakang dimodifikasi menjadi halter
3.      Homoptera, sayap depan dan belakang tersusun sama
4.      Hemptera, sayap depan sebagian membraneus
5.      Hymenoptera, sayap mirip seperti selaput
6.      Lepidoptera, sayap dilapisi bulu atau sisik
7.      Tysanoptera, sayap berumbai
8.      Othoptera, bersayap lurus
9.      Isopteran, beantuk dan ukuran sayap depan dan belakang sama
10.  Odonata, dll





BAB III. METODE PRAKTIKUM

A. ALAT DAN BAHAN
          Adapun alat yang digunakan dalam praktikum analisis vegetasi ini adalah tali rafia, patok, lahan ukuran 2x2, alat tulis dan kalkulator.Dan bahan yang digunakan adalah tumbuh-tumbuhan di Universitas Hasanudin Makassar.

B. CARA KERJA
         Untuk pelaksanaan praktikum kriteria dan indikator tutupan lahan (tumbuhan) pada agroekosistem dilakukan urutan kerja sebsgai berikut:
1.      Lakukan pengamatan cepat apakah tapak bersifat monokultur atau polikultur. Untuk area monokultur (plot utama) ditentukan petak percontohan dengan luas 2x2 m. kotak pengamatan dibuat dengan tali rafia dan kayu penahan disetiap pojokan dengan pengulangan lima kali untuk di plot pendukung ( plot utama tidak pengulangan ).
2.      Identifikasi/inventarisasi vegetasi yang masuk dalam kotak pengamatan. Amati  vegetasi didalam kotak pengamatan yang terdiri dari  spesies, jumlah individu dan luas bidang dasar.
3.      Dari setiap spesies dibuat herbarium. Bila terdapat spesies yang belum dikenali, herbarium dapat digunakan untuk membandingkan dengan sumber informasi lain seperti buku, wesite internet dan sumber lainnya.
4.      Hitung besarnya kerapatan (individu/m) dan frekuensi dan dominasi (m/ha).
        Cara menghitung SDR
        Kerapatan menunjukan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada setiap petak.
a.        Kerapatan Mutlak (KM)    =  Jumlah spesies tersebut                                                                                                                                                                          
                                                                Jumlah plot
             Kerapatan mutlak cocor bebek   =  5  = 0,714
                                                                     7
             Kerapatan mutlak boreria           =  14   = 2    
                                                                       7                              

                Kerapatan mutlak keladi            =  5  = 0,714
                                                                         7
    Kerapatan mutlak panikum sp    =  6  = 0,857
                                                                         7
                Kerapatan mutlak benalu            =  2  = 0,285
                                                                        7
b.      Kerapatan nisbih          = KM Spesies tersebut            x100 %                                                                                                  
                                               Jumlah KM seluruh spesies
       
      Kerapatan nisbih cocor bebek = 0,714  x 100 % = 14,28
                                                                       5
               Kerapatan nisbih boreria          =  2  x 100 %  =  40,00
                                                                     5
               Kerapatan nisbih keladi           = 0,714  x 100 %  = 14,28
                                                                      5
                Kerapatan  nisbih panikum sp  =  0,857   x 100 %  = 17,14
                                                                      5                                                                                                                                                                                                                                                                           
                Kerapatan nisbih benalu          =  0,285    x 100 %   5,70
                                                                        5





BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENGAMATAN
       Seperti yang telah di amati bahwa masing-masing kuadaran memiliki varietas atau tumbuhan yang berbeda dengan segala aspek dan faktor lingkungan yang sama. Dan masing-masing tumbuhan di tiap kuadran itu memiliki kerapatan dan frekuensi yang berbeda. Kemudian dari masing-masing kuadaran tersebut dapat dipelajari susunan jenis dan struktur tumbuh-tumbuhan, ketahanan terhadap lingkungan, habitat, kerapatan, frekuensi dan lain-lain
Dari data yang di peroleh telah menunjukan bahwa di lahan yang diamati terdapat 5 jenis tumbuhan  pohon dan total seluruh spesies yaitu 3 spesies.
a.           Adapun jenis- jenis tumbuhan yang di peroleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut:                                          
NO. Spesies
Nama Lokal
Nama Latin
Jenis
Jumlah Individu
Keterangan
1.
Cocor Bebek
Kalanchoe blossfeldiana
Terna(Herb)
5
Tanaman hias
2.
Boreria
Borreria
Terna(herb)
14
Dimakan serangga
3.
Keladi liar
Caladeium sp
Terna(herb)
5
Dimakan serangga
4.
Rumput benggala
Panikum sp
Palma
6
Dimakan hewan ternak
5.
Benalu
Bendrophthoe sp
Pemanjat
2
Dimakan serangga




b.      Adapun jenis – jenis serangga yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
No.
Nama lokal
Nama latin
Jenis
Jumlah individu
Keterangan
1.
Semut merah
Oechopylla
Hymenoptera
 9
Pemakan serbuk tumbuahan
2.
Belalang
Disossteira Carolina
Orthoptera
 2
Pemakan rumput
3.
Nyamuk
Aedes albopictus
Dipteral
 4
Penghisap darah


B. PEMBAHASAN
Vegetasi dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi.
Analisis vegetasi biasa dilakukan oleh ilmuwan ekologi untuk mempelajari kemelimpahan jenis serta kerapatan tumbuh tumbuhan pada suatu tempat.Dengan menganalisis persebaran vegetasi maka ilmuwan ekologi akan lebih mudah untuk mempelajari suatu komunitas tumbuhan. Kelestarian lingkungan ditentukan oleh indikatornya yang berupa ada atau tidaknya komunitas suatu tumbuhan tertentu pada suatu lingkungan tertentu. Hal ini terjadi karena beberapa jenis komunitas tumbuhan sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada tempatnya tinggal atau hidup.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan.
Dari hasil pengamatan yang diperoleh dapat diketahui bahwa pada plot 2×2 m2 terdiri dari 5 jenis tumbuhan dan sebanyak 3 spesies.  Jumlah kerapatan mutlak cocor bebek yaitu 0,714, jumlah kerapatan mutlak boreria yaitu 2,00, jumlah kerapatan mutlak tanaman keladi liar yaitu 0,714, jumlah kerapatan mutlak tumbuhan panikum yaitu 0,857, dan jumlah kerapatan mutlak benalu yaitu 0,285.
Jadi,untuk jumlah keseluruhan kerapatan mutlak tumbuhan yang ada pada plot 2x2 m yaitu 4,570.
Selain itu untuk jumlah kerapatan nisbih dari masing-masing jenis tumbuhan adalah, untuk jumlah kerapatan nisbih cocor bebek yaitu 14,28 %, jumlah kerapatan nisbih boreria yaitu 40,00 %, jumlah kerapatan nisbih tumbuhan keledi yaitu 14,28 %, jumlah kerapatan nisbih tumbuhan panikum yaitu 17,14 %, dan jumlah kerapatan nisbih tumbuhan benalu yaitu 5,70 %. Jadi jumlah keseluruhan kerapatan nisbih pada plot 2x2 m yaitu 91,40 %.
Tingginya tingkat densitas dari tumbuhan pada  plot diatas yang menempati suatu ekosistem tertentu ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya faktor lingkungan yang mendukung seperti pH, suhu dan kelembaban yang cocok guna untuk mendukung pertumbuhan populasi selain itu juga memiliki kemampuan bersaing yang cukup kuat terhadap tanaman lain untuk tetap bertahan hidup di lingkungannya.
Tumbuhan sangat diperlukan oleh semua makhluk hidup, khususnya Serangga seperti nyamuk, belalang, dan semut merah. Serangga sangat bergantung pada tumbuhan karena tumbuhan adalah maknanannya maupun tempat hidupnya.   Dari hasil pengamatan pada praktikum ini salah satu contohnya adalah belalang. Belalang sangat bergantung pada tumbuhan karena belalang makanannya adalah tumbuhan dan habitatnya dipadang rumput.
          Pembuatan kurva spesies area ini dilakukan untuk mengetahui luasan petak minimum yang akan mewakili ekosistem yang terdapat pada suatu petak yang diplot. Kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis vegetasi yang menggunakan petak contoh. Luasan petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut.  Makin beragam jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas kurva spesies areanya.

BAB V. PENUTUP

A.    KESIMPULAN
   Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Setiap tumbuhan memiliki kerapatan  mutlak dan kerapatan nisbih serta dominasi yang tinggi dalam lingkungannya.
2.      Terdapat banyak jenis vegetasi dalam satu area, ini membuktikan bahwa tumbuhan tidak dapat hidup sendiri.
3.      Setiap tanaman dalam suatu daerah memiliki kerapatan mutlak dan  kerapatan nisbih yang berbeda.
4.      Melalui analisis vegetasi, keanekaragaman tumbuhan dapat diketahui dari komunitas wilayah tersebut.
5.      Vegetasi di suatu tempat berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena faktor lingkungannya yang berbeda.
  

B.     SARAN
      Sebagai generasi penerus bangsa kita harus menjaga alam kita, khususnya menjaga vegetasi –vegatasi yang ada yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan agar vegetasi yang ada tidak rusak ataupun mati.
       Semoga dengan adanya laporan ini dapat menambah pengetahuan para pembaca tentang ANALISA VEGETASI.  Apabila ada kesalahan dan kekeliruan mohon di maafkan karena saya juga masih dalam tahap belajar.







DAFTAR PUSTAKA

Ellenberg . 1974. Quantitatif and Dynamic Plant Ecology. London: Edward Arnold Publishers.
Irwanto, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2007. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA
Lovelles, A.R. 1983. Biologi . Jakarta : Erlangga
Marsono, D.J. 1991. Potensi dan Kondisi Hutan Hujan Tropika Basah di Indonesia Buletin Instiper Volume 2 No.2. Yogyakarta : Institut Pertanian Stiper
Pratiwi, D.A. 2000. Biologi I. Jakarta : Erlangga
Rahardjo,S. 1980. Ekologi Tumbuhan. Surakarta : Tiga Serangkai
Schaum’s .1999. Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Volume 9. Oxford:Blackwell Scientific Publications
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung : ITB








                                                   
LAMPIRAN
 gbr : keladi liar
 gbr : belalang